MANUSIA SETENGAH DEWA ITU KUSEBUT “GURU”

Secara etimologi, kata “guru” memiliki makna yang hampir sama dalam beberapa bahasa. Kosakata “guru” berasal dari kosakata yang sama dalam bahasa India yang artinya “orang yang mengajarkan tentang kelepasan dari sengsara,” (Shambuan, Republika, 25 November 1997 dalam Suparlan, 2006). Dalam bahasa Arab, kata guru dekenal dengan al-mualim atau al-ustaz. Artinya orang yang bertujuan memberikan ilmu dalam majelis taklim. Dalam bahasa Sansekerta, guru berarti seseorang yang dihormati, figur yang tidak memiliki cela dan tidak boleh memiliki kesalahan.Guru bukan hanya sebagai pendidik dan pengajar, melainkan juga pengemban misi seorang begawan. Begawan adalah sosok yang bijaksana, menguasai ilmu pengetahuan, serta mengemban nilai-nilai moral dan agama. Ini berarti seorang guru harus “sempurna” dalam segala hal.

Seiring perkembangan dunia pendidikan yang kian pesat, guru dituntut mendekati “kesempurnaan” itu. Guru dituntut meningkatkan empat kemampuan/kompetensi yang dimilikinya. Kompetensi profesional, pedagogi, sosial, dan kepribadian. Hal itu berarti seorang guru harus mumpuni dalam bidang keilmuan yang ditekuninya, menguasai ilmu mendidik dengan baik, mampu bersosialisasi dengan siapapun, serta memiliki integritas, karakter, dan akhlak yang terpuji.    Bagaimana tidak? Pada dasarnya setiap manusia memiliki banyak kekurangan. Namun, jika kita telah memilih terjun dalam dunia pendidikan dan berprofesi guru, maka kita harus menjadi sosok yang mendekati sempurna. Itu bukan hal yang mudah sebab tugas dan beban guru sangat berat. Sebelum mengajar, ia harus merencanakan pembelajaran, kemudian melaksanakan pembelajaran hingga melakukan evaluasi. Di dalam kelas, guru mengajar 15-32 siswa. Selama pembelajaran berlangsung, guru harus mentransfer ilmu pada siswanya, melatih, mendampingi, serta membantu mereka agar dapat menguasai kompetensi yang dituntut oleh kurikulum. Menghadapi belasan hingga puluhan siswa dengan latar belakang sosial, ekonomi,sikap/kebiasaan, kemampuan akademik serta kepribadian yang beragam dan dalam waktu bersamaan juga membutuhkan keahlian tersendiri.

Selain berbagai kemampuan dan keahlian di atas, guru pun dituntut memiliki akhlak dan karakter yang unggul. Seorang guru harus disiplin, rajin, bertanggung jawab, religius…. Semua sifat mulia harus muncul dalam diri seorang guru. Dalam filosofi Jawa, guru artinya orang yang digugu dan ditiru. Guru harus bisa dijadikan panutan sekaligus dapat dijadikan teladan tidak hanya bagi siswanya, tapi bagi masyarakat di sekitarnya. Guru adalah model yang kata-katanya, perilaku dan sikapnya setiap saat dicontoh/ditiru oleh siswanya. Betapa berat menjadi seorang guru.

Mereka yang memilih profesi guru berarti harus mau menyandang sebutan begawan. Sebutan yang membanggakan sekaligus membebani. Hal itu disebabkan guru harus mendekat pada kesempurnaan yang dituntut melekat dalam dirinya. Oleh karenanya saya menyebut guru sebagai manusia setengah dewa.

Pada kenyataannya, tidak ada guru yang sempurna. Setiap guru pasti memiliki kekurangan. Namun, selalu ada jalan untuk berusaha menjadi lebih baik. Oleh karena itu, seorang guru harus mau terus belajar. Belajar dan terus belajar. Guru harus selalu berupaya meningkatkan kompetensinya. Dengan terus belajar dan berupaya sebaik-baiknya untuk menjadi sang begawan yang sesungguhnya. Jangan menyerah wahai guru! Jadilah sang begawan! Jadilah manusia setengah dewa! Jadilah guru-guru hebat!

Khoen Eka Anthy S.A.