Membaca yang Tak Tertulis

Acapkali kata membaca hanya diartikan secara leksikal, yaitu kegiatan melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau dalam hati). Kerap pula kita terjebak mengajarkan anak hanya untuk memaknai kata membaca itu secara tekstual. Misalnya membaca kitab suci, media cetak, buku fiksi/nonfiksi, buku pelajaran, hingga buku bacaan yang sifatnya hiburan. Kita memang harus mengembangkan minat baca mereka dan itu wajib dilakukan. Namun selain membiasakan mereka membaca yang tertulis, kita juga mesti melatih mereka untuk membaca yang tak tertulis.

Tentang membaca yang tak tertulis, membuat saya jadi teringat puisi karya Taufik Ismail yang berjudul “Membaca Tanda-Tanda”.

 

MEMBACA TANDA-TANDA

 

Karya: Taufik Ismail

 

Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas

Dari tangan

Dan meluncur lewat sela-sela jari kita

 

Ada sesuatu yang mulanya

Tak begitu jelas

Tapi kini kita mulai merindukannya

 

Kita saksikan udara

Abu-abu warnanya

Kita saksikan air danau

Yang semakin surut jadinya

Burung-burung kecil

Tak lagi berkicau pagi hari

 

Hutan kehilangan ranting

Ranting kehilangan daun

Daun kehilangan dahan

Dahan kehilangan hutan

 

Kita saksikan zat asam

Didesak asam arang

Dan karbon dioksid itu

Menggilas paru-paru

 

Kita saksikan

Gunung memompa abu

Abu membawa batu

Batu membawa lindu

Lindu membawa longsor

Longsor membawa air

Air membawa banjir

Banjir membawa air, air mata

 

Kita telah saksikan seribu tanda-tanda

Bisakah kita membaca tanda-tanda?

 

Allah kami telah membaca gempa

Kami telah disapu banjir

Kami telah dihalu api dan hama

Kami telah dihujani abu dan batu

 

Allah ampuni dosa-dosa kami

Beri kami kearifan membaca

Seribu tanda-tanda

 

Karena ada sesuatu yang rasanya

Mulai lepas dari tangan

Dan meluncur lewat sela-sela jari

Karena ada sesuatu yang mulanya

Tidak begitu jelas

Tapi kini kami

Mulai merindukannya

 

Puisi di atas mengingatkan kita untuk selalu membaca peristiwa alam yang terjadi di sekitar kita. Alam yang tak lagi ramah, itu karena manusia yang kurang peka terhadap lingkungan. Polusi, punahnya populasi binatang, mata air kian habis, itu karena kekurangarifan manusia. Kita mesti mengakuinya. Adapun gunung meletus, gempa bumi, longsor, merupakan tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta. Kita pun mesti mengakuinya. Ya, Taufik Ismail telah mengingatkan kita dengan bahasanya yang demikian indah namun tajam menghunjam.

Membaca tanda-tanda atau membaca yang tak tertulis itu berarti membaca segala hal di sekitar kita untuk kemudian kita menentukan suatu langkah yang tepat guna menyikapinya. Kita perlu melatih kemampuan dalam memaknai keadaan. Kita perlu membaca keramaian lalu lintas, kita perlu membaca cuaca, kita perlu membaca ekspresi wajah orang lain, kita perlu membaca keinginan orang-orang terdekat kita… Bahkan, kita perlu membaca diri sendiri.

Kita perlu membaca cuaca. Misalnya, musim hujan. Musim hujan berarti ada kemungkinan hujan sehari penuh setiap hari. Setelah turun deras, lalu cuaca berubah cerah, bisa jadi hujan berikutnya akan menyerbu kembali dalam waktu yang berdekatan. Sebaiknya selalu membawa jas hujan atau payung. Jaket tebal juga harus kita bawa atau pakai agar tidak kedinginan. Selokan di dekat rumah perlu kita bersihkan agar air hujan mengalir dengan lancar. Bila ada tempat yang tergenangi air hujan, harus segera kita bersihkan agar tidak menjadi sarang nyamuk. Membuang sampah pun harus rutin kita lakukan karena cuaca lembap menyebabkan pembusukan lebih cepat terjadi. Masih banyak hal yang dapat kita baca dari musim hujan tersebut.

Kita pun perlu membaca ekspresi, bahasa tubuh, atau raut wajah orang lain. Ayah pulang bekerja. Sang anak tiba-tiba datang padanya minta uang untuk membeli sesuatu, buku misalnya. Apa reaksi ayah? Kemungkinan besar ayah akan marah. Ketika pulang dari bekerja, ia tentu lelah, ingin melepaskan beban kerja yang mungkin juga belum terselesaikan. Ingin merelakskan pikiran. Sementara itu, sang anak telah menunggu ayah. Apa yang dilakukan sang anak tidak salah. Hanya, ia belum dapat membaca situasi, belum dapat membaca ekspresi dan bahasa tubuh ayahnya. Dengan demikian, kemampuan membaca yang tak tertulis sangat dibutuhkan agar tidak terjadi kesalahpahaman, pertengkaran atau hal lain yang tidak kita inginkan.

Membaca diri sendiri juga tak kalah pentingnya. Kita perlu membaca kemampuan tubuh, kesehatan, serta kebutuhan diri sendiri. Mata kita telah merah dan pedas, maka berhentilah membaca. Kita perlu beristirahat. Kadang kita abai dalam membaca diri sendiri. Kemauan kita mungkin tak terbendung, tapi harus kita sadari dan akui bahwa fisik kita terbatas. Kebutuhan jasmani kita mungkin tela tercukupi, tapi kita juga mesti ingat bahwa jiwa kitapun perlu asupan rohani

Dengan membaca keadaan, alam, peristiwa, dan situasi, kita akan menjadi orang yang lebih peduli terhadap diri sendiri dan lingkungan. Kepekaan rasa kemanusiaan, simpati, dan empati kita juga akan lebih terasah. Kita juga akan menjadi pribadi yang penuh perhitungan dan pertimbangan. Insyaallah…

By: Khoen Eka Anthy S.A.